Tradisi Memberikan Angpao

Tahun baru china atu lebih dikenal dengan budaya Imlek dan tradisi pemberian Angpao dengan salam Gong Xi Fat Choi adalah sebagian kecil budaya warga Thionghoa yang kini banyak dikenal Di Indonesia. Presiden Gus Dur yang saat itu memberikan kesempatan kembali kepada warga keturunan Thionghoa di Indonesia untuk kembali merayakan Imlek dan melakukan Budaya dan tradisinya yang sempat terpasung pada masa Orde baru. Budaya Barongsai yang selalu menyertai tradisi Tahun baru Imlek kini juga bisa bebas dijalankan kembali tanpa harus takut di cap sebagai rezim komunis. Warga keturunan Tionghoa juga tidak merasa takut menggantung lentera merah, membunyikan petasan dan menyembunyikan sapu sebagai salah satu keunikan dari perayaan tahun baru Imlek. Disamping itu, masyarakat Tionghoa juga akan mulai menempel gambar Dewa Penjaga Pintu pada hari-hari perayaan ini. Inilah sebagian budaya yang mungkin dapat kita hormati bersama keberadaannya. Lalu Apakah pembagian tahun dalam budaya masyarakat tionghoa sama dengan penanggalan kalender masehi yang saat ini kita gunakan ? Dan adakah hubungan Budaya tahun baru Imlek dengan Tradisi memberikan Angpao ?
Penanggalan Tionghoa dipengaruhi oleh 2 sistem penanggalan, yaitu Gregorian dan Bulan-Matahari. Satu tahun dibagi menjadi 12 bulan sehingga tiap bulannya terdiri dari 29 ½ hari. Namun Penanggalan ini masih dilengkapi dengan pembagian 24 musim yang ada hubungannya dengan perubahan alam, sehingga pembagian musim ini sangat berguna bagi penduduk disana yang pada jaman dulu masih menggantungkan hidupnya pada pertanian dan terbukti amat berguna dalam menentukan saat tanam maupun saat panen.
Selain dari pembagian musim di atas, dalam penanggalan kalender Tionghoa juga dikenal istilah Tian Gan dan Di Zhi yang merupakan cara unik dalam membagi tahun menurut hitungan siklus 60 tahunan. Masih ada lagi hitungan siklus 12 tahunan, yang kita kenal dengan istilah Shio, yaitu Tikus, Sapi, Macan, Kelinci, Naga, Ular, Kuda, Kambing, Monyet, Ayam, Anjing dan Babi yang mempunyai sifat dan karakternya masing-masing jika dihubungkan dengan ramalan
Sebenarnya, tradisi memberikan angpao sendiri bukan hanya monopoli pada saat tahun baru Imlek, melainkan di dalam peristiwa apa saja yang melambangkan kegembiraan seperti pernikahan, ulang tahun, masuk rumah baru dan lain2, tradisi angpao juga pasti akan ditemukan. Angpao sendiri adalah dialek Hokkian, arti sebenarnya adalah bungkusan atau amplop merah. Menurut kepercayaan Tionghoa, warna merah mempunyai mitos kegembiraan, semangat dan memberikan nasib baik. Dan yang diharuskan memberi angpao adalah mereka yang sudah menikah karena menikah dalam budaya tionghoa adalah batasan anak dan dewasa.
Angpao pada jaman dahulu berupa permen, manisan atau bungkusan roti namun karena jaman sudah berganti maka tradisi angpao diganti dengan pemberian uang agar anak-anak dapat menentukan sendiri apa yang ingin dibelinya. Namun tradisi Angpao di atas tidak mengikat. Sekarang ini, budaya memberikan angpao pada saat tahun baru Imlek tentunya lebih dilihat pada kemampuan secara ekonomi karena angpao sendiri bermakna senasib sepenanggungan, saling mengucapkan dan memberikan harapan yang baik untuk 1 tahun ke depan kepada orang yang menerima angpao tadi.


Gadis Kecil Asal China Tertawa Selama 12 Tahun





 
SELAMA 12 tahun seorang gadis kecil tidak bisa menghentikan tawa. Bahkan, gadis asal China ini tidak bisa bicara. Ia harus menggunakan cara lain untuk berkomunikasi, yakni dengan cara terkikik.


Xu Pinghui (13), dikatakan oleh sang dokter, mulai tertawa sejak dia mengalami demam pada usia delapan bulan. Orangtuanya sekarang sedang putus asa karena belum menemukan cara menyembuhkannya.

Yang Longying, sang ibu, mengatakan, "Sejak itu dia tertawa tanpa bisa dikontrol." Ayahnya, Xu Weiming, menambahkan, "Kami sedih, melihat dia tertawa justru membuat kami lebih sedih daripada bila dia menangis."

Namun, Pinghui sedikit mempunyai harapan setelah dokter mengatakan bahwa ada bagian otak depan yang rusak akibat demam. Mereka sekarang sedang memindai otak si kecil dengan CT scan dan berharap bisa menyelesaikan masalah yang bertahun-tahun menjadi misteri ini.


7 Keajaiban Paling Menakutkan di Dunia

Jika kita terbiasa mendengar, melihat kata 7 Keajaiban Dunia, tentunya pikiran kita akan melayang hingga menuju sebuah tempat yang indah, megah, berusia ratusan tahun dan dibuat secara luar biasa. Namun tanpa disadari sebenarnya ada tempat-tempat menyeramkan yang juga dikategorikan ke dalam Keajaiban ‘Dunia Lain,’ menyeramkan, sumpek, karena tempat-tempat tersebut bukanlah diperuntukkan bagi mereka yang hidup. Beragam ide dan alasan yang mengawali pembangunan tempat-tempat menyeramkan tersebut. Berikut kami merangkum 7 Keajaiban Paling Menakutkan di Dunia yang ada di berbagai belahan dunia:
 
 7. Paris Catacombs

Di bagian selatan kota Paris, ibu kota Prancis ternyata terdapat sebuah tempat luas dibawah tanah berupa labirin-labirin yang digunakan untuk menyimpan sekitar lebih dari 6 juta jasad manusia didalamnya. Labirin bawah tanah tersebut memiliki total panjang sekitar 300 kilometer dan memiliki banyak sekali lorong - lorong yang bercabang-cabang sehingga jika orang yang mencoba masuk kedalamnya sangat mungkin dia tersesat.
Jumlah jasad yang tersimpan didalam The Catacombs hampir tiga kali lipat dari populasi penduduk yang hidup diatas labirin itu yaitu paris.

Berdasarkan fakta sejarahnya, dahulu dengan berkembangnya agama kristiani dan adanya tradisi penguburan jasad yang harus dekat dengan lingkungan Gereja mengakibatkan pada abad 10 wilayah-wilayah pemakaman di pusat kota paris menjadi terlalu penuh dan sulit untuk berkembang karena berada dipusat kota. Hal tersebut mengakibatkan hanya kaum kaya yang sanggup melaksanakan ritual penguburan di dekat lingkungan gereja. Sedangkan untuk kaum yang tidak memiliki banyak uang, maka penguburan untuk kerabat mereka disediakan tempat pemakaman yang lebih mirip dengan tempat penguburan massal. Saat itu liang lahat yang sudah terisi oleh jasad manusia dapat dibongkar lagi dan dimasuki oleh jasad lainnya serta hanya sedikit jasad yang mampu membeli peti mati sendiri, sehingga akhirnya satu peti mati yang sudah digunakan dapat dipakai lagi untuk penguburan berikutnya.

Saat ini The Catacombs dijadikan museum bawah tanah bagi para pelancong, dengan menyuguhkan galeri tulang belulang manusia yang disusun dengan rapi. Museum tersebut dibuka setiap hari dari jam 10 pagi sampai jam 5 sore dan dibatasi hanya 200 pengunjung setiap Tour nya.

6. Menara Tengkorak Niš, Serbia


Menara Tengkorak di Serbia adalah salah satu bangunan yang memiliki kumpulan tulang belulang,dan dimaksudkan untuk menakut-nakuti mereka yang melihatnya. Memang cara tersebut digunakan ratusan tahun di masa lalu, tepatnya di tahun 1809 ketika para pejuang pemberontak Serbia mengalami goncangan secara signifikan akibat berhadapan dengan pasukan Kekaisaran Ottoman. Untuk meredam arus pemberontakan pejuang Serbia, seorang komandan  Turki memerintahkan pasukannya untuk  memotong kepala dari jenazah yang telah meninggal,mengumpulkan dan menyusunnya hingga menjadi sebuah benteng, hal ini digunakan sebagai peringatan bagi mereka yang mencoba melawan kekaisaran. Sebanyak 952 tengkorak dikabarkan menjadi bagian dari benteng tersebut, namun seiring dengan waktu banyak terjadi klaim dan membawa tengkorak yang dianggap anggota keluarganya, hingga saat ini hanya tersisa 58 tengkorak saja di menara Niš.


5. Kapel Tengkorak, Czermna, Polandia

 Cerita mengenai keberadaan Kapel Tengkorak (Kaplica Czazek) merupakan salah satu yang menarik di antara gereja-gereja lainnya di Polandia. Kapel ini dibuat antara tahun 1776 dan 1804, ketika seorang pendeta Ceko dan dibantu beberapa penggali kubur setempat, menghabiskan waktu berjam-jam menggali dan mengangkat jenazah-jenazah yang jumlahnya tidak terhitung, karena itu adalah pemakaman massal. Mereka banyak menemukan sejumlah tengkorak dengan kondisi yang menarik kemudian dipisahkan dari tulang belulang lainnya. Tengkorak yang menarik salah satunya adalah yang memiliki lubang peluru di kepalanya, diduga semasa hidupnya ia adalah politisi. Beberapa tulang di bawa ke dalam kapel. Secara keseluruhan pendeta tersebut telah menemukan sebanyak 24.000 tengkorak dalam penggaliannya. Beberapa diantaranya berada 16 kaki di kedalaman tanah, namun hanya sekitar 3.000 tulang belulang yang menghiasi dan memenuhi ruangan kapel, para pendeta Ceko menamai ruangan ini dengan,”sanctuary of silence.”


4. Capela dos Ossos, Evora, Portugal

Capela dos Ossos, atau lebih dikenal pula dengan nama Kapel Tulang (Chapel Bones), letaknya berdampingan dengan Gereja St. Francis yang merupakan salah satu obyek wisata di Kota Evora, Portugal. Capela dos Ossos ini dibangun pada abad ke 16, dengan tujuan untuk mengendalikan kebutuhan lahan pemakaman masyarakat setempat. Salah satu ruangan yang menarik adalah dimana terdapat dua jenazah yang dikeringkan—seorang lelaki dan anak kecil, menggantung dengan seutas rantai di dinding ruangan. Identitas mereka tidak diketahui, namun berdasarkan penuturan masyarakat setempat, hubungan mereka adalah ayah dan anak, yang bersikap jahat terhadap ibu/istrinya dan kemudian dikutuk.






3. Pemakaman Brno,  Republic Ceko

Pemakaman Bruno adalah sebuah pemakaman yang terletak di bawah Alun-Alun St.Jacob sudah ada sejak ratusan tahun lalu. Ketika sebuah proyek pembangunan gedung baru telah ditentukan dan akan dilaksanakan pada tahun 2001, sebuah kegiatan ekpsplorasi arkeologis pun dilakukan. Dan betapa terkejutnya para arkeolog, hampir 50.000 lebih kerangka manusia ditemukan terlihat memenuhi ruang terowongan bawah tanah. Beberapa kerangka digali kembali guna memperoleh ruang untuk jenazah yang baru, sepertinya itu yang dilakukan sehingga banyak kerangka yang terlihat di dalam ruang terowongan. Pernah pada suatu waktu kerang-kerangka tersebut berdempetan cukup erat, hingga kemudian terjadi sebuah bencana banjir dan menghantam semua kerangka yang ada di dalam terowongan. Kemudian pemerintah Kota Brno melakukan sebuah upaya restorasi pada 2010 hingga 2011. Tampaknya Pemakaman Brno ini adalah yang kedua terbesar di dunia. Dan pemakaman ini bukanlah tempat yang menyeramkan, namun tempat ini adalah sebuah tempat menjalin hubungan antara kehidupan dan kematian, sebuah tempat untuk bermeditasi.


2. Santa Maria della Concezione, Roma, Italia

Santa Maria della Concezione adalah salah satu tempat terindah, sehingga tidak ada orang yang berpendapat bahwa kematian adalah hal yang menakutkan. Di dalam sebuah gereja nampak lebih dari 4.000 tulang belulang para biarawan Capuchin yang disusun sedemikian artistik,sehingga terlihat indah. Beberapa tulang belulang masih dilengkapi dengan jubah biarawan Capuchin, namun beberapa disusun ulang menjadi beberapa karya seni baik itu simbol maupun sebuah ornamen ruangan. Sebuah tulisan plakat pun terdapat di dalamruangan tersebut dan mengatakan,”Apa yang kamu alami saat ini, adalah yang pernah kami alami. Apa yang kami alami sekarang, adalah apa yang akan kamu alami.” Hal tersebut adalah sebuah peringatan mengenai akan datangnya kematian di dalam perjalanan kehidupan manusia. Sebuah peringatan yang hangat dan menyejukkan.


 
1. Pemakaman Sedlec, Republik Ceko

Salah satu tempat untuk melihat koleksi tulang belulang manusia terbanyak di dunia, adalah di Pemakaman Sedlec yang terdapat di negara Republik Ceko. Sebuah bangunan gereja kecil yang berada di pinggiran Kutna Hora, telah dipenuhi oleh lebih dari 40.000 kerangka manusia. Akibatnya gereja ini kemudian dikenal dengan Gereja Tulang (Bone Church), ribuan lebih tulang belulang tersusun membentuk sebuah ruang dan bangun yang ada ada di dalam gereja ini. Ornamen ruangan, simbol keagamaan, pagar tangga, dan banyak lagi.

Pada tahun 1278, seorang biarawan bernama Henry melakukan sebuah perjalan rohani ke tempat Jesus Kristus dimakamkan. Sepulang dari perjalanannya itu, ia membawa sejumlah kecil tanah dari makam tersebut. Ia kemudian menebarkan tanah tersebut ke berbagai ruangan di Pemakaman Sedlec, dan berupaya menyucikan tanah pemakaman tersebut. Akibatnya semua orang beranggapan bahwa pemakaman sedlec adalah sebuah tempat suci dan terbaik bagi jenazah seseorang dimakamkan, sehingga pada akhirnya pemakaman tersebut tidak bisa lagi menampung jenazah yang akan dikuburkan. Akhirnya pada 1511, jenazah yang telah dikuburkan kembali digali, kemudian tulang belulangnya mereka simpan di luar ruangan.

Upaya penggalian tersebut berlangsung lama, hingga pada tahun 1870 seorang tukang kayu, František Rint, disewa untuk mengatur interior ruangan, beserta tulang-belulang yang ada di dalam ruang tersebut. Ia pun memutar otak dan berusaha memikirkan keberadaan tulang belulang tersebut. Hingga akhirnya tercetuslah sebuah ide untuk membuat sebuah karya seni yang berasal dari tulang. Ia kemudian merangkai tulang belulang menjadi beberapa benda seni, ornamen ruangan, dan bahkan sarana ibadah seperti altar, tempat lilin, dan sebagainya. Walaupun sebenarnya menakutkan bahkan hampir mirip dengan kapel pemuja setan, namun Sedlec adalah bangunan sebuah gereja suci kristiani, yang juga merupakan sebuah pemakaman. Sedlec adalah sebuah bangunan dan tempat keajaiban dunia lain yang mengagumkan.


Anak Bisu yang Berbakti


Di propinsi Yin Nan pada kota Kun Ming terdapat seorang anak bisu yang berbakti, dia sangat berbakti sekali. Keluarganya sangat miskin, dia mempunyai seorang ibu yang sudah tua renta, tak peduli perut lapar atau badan kedinginan, dalam hati anak bisu yang berbakti ini bisa mengetahuinya, tak menunggu ibunya memberitahukannya, dia telah tahu semuanya lantaran sedemikian miskin tak ada makanan yang bisa dimakannya.

Anak bisu berbakti ini pergi mengemis sisa makanan dari orang lain untuk dikasih makan ibunya, asalkan sudah mendapatkannya, dia pasti membawa pulang ke rumah dan menaruhnya di depan ibunya, menunggu setelah ibunya duluan makan, diri sendiri barulah makan, ibu kalaulah tidak memakannya, dia juga tidak pernah sudi untuk memakannya. Terkadang menghadapi saat sewaktu ibunya lagi marah, dia akan menunjukkannya mimik wajah yang bisa membuat orang lain jadi tertawa, menari – nari di hadapan ibunya, sampai membuat ibunya tertawa barulah berhenti.

Ibu dia tak ada mempunyai anak yang lainnya, hanya memiliki seorang anak bisu, pada mulanya dia begitu sedih karena anak tunggalnya yang bisu, tetapi lama kelamaan, anak bisu yang begitu berbakti sekali, membuatnya jadi sangat terhibur, malahan merasakan anak bisu yang berbakti ini jauh lebih baik dibandingkan dengan anak lainnya.

Pada suatu kali, ada seorang yang lagi memakan buah semangka, melihat anak bisu yang berbakti ini lewat, lalu memberikan separuh semangka kepadanya, anak bisu ini menganggukkan kepala tanda terima kasih, lalu membawanya pulang ke rumah. Orang yang memakan semangka ini pernah mendengarkan cerita orang, asalkan setiap kali anak bisu berbakti ini mendapatkan makanan, pasti duluan memberikannya kepada ibunya untuk di makan, makanya dia jadi merasa ingin tahu dan mengikuti di belakangnya, berpikir hendak membuktikannya, kemudian benar – benar demikian halnya. Dia benar – benar memuji bahwa anak bisu yang berbakti ini benar – benar berbuat sesuai dengan apa yang diceritakan oleh orang lain mengenai bakti dari anak tersebut.

Kemudian ibu dari anak bisu berbakti ini meninggal, tetangga dikampungnya sedang berdiskusi hendak menyumbangkan uang untuk memakamkan ibunya. Melihat anak bisu itu tergesa – gesa menarik baju dari orang kampung, dan membawa mereka sampai ke samping sebuah sumur, dengan jari telunjuk menunjuk pada sumur itu beberapa kali, pada mulanya mereka tak tahu akan maksudnya, lalu mengambil tali untuk turun ke dalamnya untuk melihatnya, rupanya di bawah sumur ada terdapat begitu banyak uang, cukup untuk membeli baju dan peti mati, dan segala biaya pemakamam yang diperlukannya semuanya telah tercukupi. Semua orang saling memandangi, begitu kaget sekali, juga tak tahu dari mana datangnya uang tersebut. Ada orang berkata ”Anak berbakti ini setiap hari mengemis makanan pulang, pasti melempar uang logam ke dalam sumur, menimbun begitu lama, makanya ada sedemikian banyak uang”.

Anak bisu berbakti ini setelah mengurus pemakamam ibunya, lalu pergi jauh, di jalan Kun MIng tak pernah lagi terlihat akan bayangannya.


Sumber

Tradisi dalam Merayakan Festival Duan Wu (Duan Wu Jie)



Festival Duan Wu (Duan Wu Jie [端午节) yang biasanya jatuh pada tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek merupakan salah satu festival yang penting dalam budaya dan tradisi Tionghoa. Perayaan Festival Duan Wu biasanya diiringi dengan beberapa kegiatan perayaan seperti perlombaan Perahu Naga (Dragon Boat) dan makanan khusus Festival Duan Wu yaitu Bak Cang.

Perlombaan Perahu Naga (sai long zou [赛龙舟])

Perlombaan Perahu Naga atau dalam bahasa Inggris disebut dengan Dragon Boat adalah kegiatan utama dalam memperingati dan merayakan Festival Duan Wu. Menurut cerita sejarah,  seorang Menteri dan Sastrawan Kerajaan Chu yang bernama Qu Yuan bunuh diri dengan menenggelamkan diri ke dalam Sungai pada tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek. Rakyat Kerajaan Chu mengetahui peristiwa tersebut kemudian berbondong-bondong menuju ke sungai untuk mencari Mayat Qu Yuan dengan cara mendayung Perahu. Oleh karena itu, setiap tanggal 5 bulan 5 penanggalan Imlek, mereka melakukan perlombaan perahu naga untuk memperingati Qu Yuan dan juga bertujuan untuk mengusir ikan-ikan dan binatang laut agar tidak memakan mayat Qu Yuan. Kegiatan tersebut kemudian menjadi sangat populer di masa Kerajaan Wu, Kerajaan Yue dan Kerajaan Chu.
Pada Dinasti Qing [清朝] di tahun ke 29 Pemerintahaan Kaisar Qian Long [乾隆] atau sekitar tahun 1736, Taiwan mulai mengadakan perlombaan resmi Perahu Naga. Gubernur saat itu Jiang Yuan Jun [蒋元君] memimpin perlombaan Perahu Naga di Kota Tai Nan, Danau Ban Yue Chi. Sampai saat ini Taiwan masih mengadakan Perlombaan Perahu Naga di tanggal 5 bulan 5 Penanggalan Imlek. Demikian juga di Hongkong.
Disamping itu, tradisi perlombaan Perahu Naga juga dilakukan oleh Jepang, Vietnam sampai ke Inggris Raya. Pada tahun 1980, Perlombaan Perahu Naga dimasukkan ke dalam bidang olahraga resmi yang dipertandingkan di Republik Rakyat China untuk memperebutkan “Piala Qu Yuan”. Tanggal 6 Bulan Juni Tahun 1991 (Kalender Imlek : 05-05), di kampung halaman keduanya Qu Yuan ( Propinsi Hunan, Kota Yue Yang) mengadakan Pertandingan Perahu Naga Internasional yang Pertama sehingga kebudayaan Tionghoa ini tetap dapat dipertahankan di masa zaman modern ini.

Makanan Bak Cang (Zhong Zi [棕子])

Dalam Masyarakat Tionghoa, bicara tentang Festival Duan Wu pasti tidak lepas dari makanan khususnya yaitu Zhong Zi atau di Indonesia lebih populer dengan menggunakan bahasa Hokkian dan Teochew yaitu Bak Cang.
Zhong Zi atau Bak Cang yang berkembang hingga saat ini adalah Bak Cang yang terbuat dari beras pulut yang didalamnya diberikan bermacam-macam isi seperti daging babi, daging ayam ataupun Tausa (pasta kacang manis) yang kemudian dibungkus dengan daun bambu dengan bentuk meruncing seperti Intan.

Sumber

Asal Usul Hari Raya Yuan Xiao Jie (Cap Go Meh)


Di Indonesia, Hari Raya Yuan Xiao lebih dikenal dengan sebutan Hari Raya “Cap Go Meh” yang artinya adalah malam ke-15 Tahun Baru Imlek. Bulan Pertama (Zhen Yue [正月]) dalam penanggalan Imlek disebut juga dengan istilah “Yuan Yue [元月]”. Dalam bahasa Mandarin, Malam disebut juga dengan istilah “Xiao [宵]”.  Jadi Yuan Xiao artinya adalah Malam dengan Bulan Purnama pertama dalam Tahun yang baru. Festival “Yuan Xiao” disebut juga dengan Festival “Shang Yuan [上元节]”.
Perayaan Festival Yuan Xiao atau perayaan Cap Go Meh sudah ada sejak 2000 tahun yang lalu saat Dinasti Han. Pada saat itu, Sebagaian besar Rakyat dan Bangsawan serta Kaisar adalah beragama Buddha yang kemudian mengetahui bahwa setiap Bulan Pertama Tanggal 15 Imlek para Bhikkhu akan melakukan penyalaan pelita untuk menghormati Buddha, maka Kaisar “Han Ming Di [汉明帝]” yang berkuasa saat itu memerintahkan untuk menyalakan Pelita di Istana dan juga semua Vihara untuk menghormati Buddha. Kaisar kemudian juga memerintahkan Rakyatnya untuk menggantungkan Lentera atau menyalakan Pelita di rumah masing-masing untuk menghormati Buddha.
Dalam Agama Buddha, Bulan Pertama tanggal 15 Imlek juga diperingati sebagai hari suci “Magha Puja” yaitu hari berkumpulnya 1250 arahat pada waktu yang bersamaan tanpa adanya kesepakatan terlebih dahulu untuk mendengarkan pembabaran Dhama dari Sang Buddha Sakyamuni, semua Arahat adalah Ehi Bhikku yang artinya adalah ditabhiskan oleh Buddha Sakyamuni sendiri.
Dalam Agama Tao [道教],  terdapat istilah San Yuan Shuo [三元说] yang terdiri dari Festival “Shang Yuan Jie [上元节]” yakni jatuh pada tanggal 15 bulan pertama Imlek, Festival “Zhong Yuan Jie [中元节]” yang jatuh pada tanggal 15 bulan 7 Imlek dan “Xia Yuan Jie [下元节]” yang jatuh pada tanggal 15 bulan 10 Imlek. Mereka masing-masing bertanggung jawab atas Langit, Bumi dan Manusia. Tanggal 15 bulan Pertama adalah Shang Yuan Jie yang juga bertanggung jawab atas Langit, memiliki makna sukacita. Pada Hari tersebut juga harus menyalakan Lampu Pelita.
Dalam Perkembangannya, penyalaan lampu pelita di Dinasti Han hanya satu hari, sampai pada Dinasti Tang menjadi 3 hari, Dinasti Song menjadi 5 hari, Bahkan saat Dinasti Ming, perayaan penyalaan Lampu Pelita ini dimulai pada hari ke-8 sampai hari ke-17 bulan pertama Imlek (tepat 10 hari).  Pada Dinasti Qing, Perayaan Festival Yuan Xiao dipersingkat menjadi  4~5 hari, tetapi bentuk perayaan diperbanyak seperti adanya kegiatan barongsai dan tarian Naga.
Terdapat beberapa cerita dan dongeng mengenai asal usulnya Festival Yuan Xiao (Cap Go Meh), diantaranya adalah Cerita tentang penyalaan Lampu dan Pemberantasan pemberontrakan keluarga Lv di Dinasti Han.

Cerita tentang Penyalaan Lampu

Pada Zaman dulu, banyak terdapat Raksasa dan Binatang buas yang sering menganggu umat Manusia. Oleh Karena itu, masyarakat saat itu membentuk pasukan untuk mengusir raksasa dan binatang buas tersebut. Suatu hari, seekor burung dewa tersesat dan jatuh ke bumi sehingga tidak sengaja dibunuh oleh para pemburu binatang buas tersebut. Kaisar Langit mengetahuinya dan sangat marah sekali yang kemudian memerintahkan para tentara langit untuk menghukum umat manusia dengan cara membakar bumi pada tanggal 15 bulan pertama penanggalan Imlek.
Seorang Putri dari Kaisar Langit yang sangat berbaik hati sangat sedih dan tidak tega untuk melihat umat manusia yang tidak bersalah mengalami penderitaan tersebut. Putri tersebut secara diam-diam turun ke bumi untuk memberitahukan perintah kaisar langit tersebut kepada umat manusia. Orang-orang yang mendengarkannya sangat panik dan takut sekali, beberapa saat kemudian seorang Lansia (lanjut usia) mengeluarkan suatu ide agar setiap rumah menyalakan lampu, petasan dan kembang api pada hari  ke 14, 15 dan 16 bulan pertama penanggalan Imlek untuk mengelabui Kaisar langit. Dengan demikian, Kaisar Langit akan mengira bahwa bumi lagi mengalami kebakaran dan ledakan.
Semua orang menyetujui ide tersebut dan lakukan persiapan masing-masing. Pada malam ke 15 bulan pertama saat Kaisar langit melihat ke bumi, Kaisar Langit melihat bumi terang benderang seperti benar-benar terjadi kebakaran dan juga terdengar suara ledakan selama 3 hari berturut-turut. Dengan demikian, masyarakat saat itu dapat selamat dari musibah kebakaran tersebut dan dapat melindungi harta benda mereka dari bencana. Untuk memperingati keberhasilan tersebut, pada tanggal 15 bulan pertama Imlek, setiap keluarga menyalakan lampu dan memasang lentera dirumahnya serta membunyikan petasan dan kembang api.

Keberhasilan pemberantasan pemberontakan Keluarga Lv [吕] oleh Han Hui Di

Pada Dinasti Han, setelah wafatnya Kaisar Han Gao Zu [汉高祖] (kaisar pertama Dinasti Han, Liu Bang). Putra dari Permaisuri Lv [吕后] yang bernama Liu Ying [刘盈] naik tahta menjadi kaisar dengan gelar Kaisar Han Hui Di [汉惠帝]. Tetapi Kaisar Han Hui Di sangat lemah dan sifatnya yang pengecut dan ragu-ragu menyebabkan kekuasaannya jatuh ke tangan Permaisuri Lv [吕后]. Setelah Kaisar Han Hui Di wafat, Kekuasaan sepenuhnya diambil alih oleh Permaisuri Lv, banyak jabatan tinggi diduduki oleh keluarga Lv. Para menteri dan pejabat tinggi Dinasti Han sangat marah, sedih dan kuatir akan Dinasti Han yang semestinya adalah milik keluarga Liu, tetapi mereka tidak dapat berbuat apa-apa terhadap Permaisuri Lv. Setelah wafatnya Permaisuri Lv, Pejabat-pejabat keluarga Lv yang dulunya mendapat dukungan penuh dari Permaisuri Lv merasa kuatir dan terancam. Mereka yang dipimpin oleh Jenderal  Lv Lu [吕禄] merencanakan untuk merebut kekuasaan kerajaan Dinasti Han.
Perencanaan Rahasia tersebut akhirnya terdengar oleh Liu Nang yang saat itu menjabat sebagai Raja Qi. Untuk melindungi Dinasti Han dari pemberontakan tersebut, Liu Nang memutuskan untuk melakukan penyerangan terhadap keluarga Lv dan kelompoknya.
Setelah berhasil memberantas pemberontakan ini, anak kedua dari Kaisar Han Gao Zu yang bernama Liú héng [刘恒] naik tahta menjadi Kaisar Dinasti Han  dengan gelar Han Wen Di [汉文帝].  Untuk memperingati keberhasilan ini, Kaisar Han Wen Di memerintahkan untuk melakukan perayaan pada tanggal 15 bulan pertama Imlek, Setiap keluarga di Ibukota diharuskan untuk menggantungkan Lentera, menyalakan lampu dan melakukan Pesta yang meriah di seluruh sudut Ibukota.


Sumber

Asal Usul Festival Qi Xi (Hari Valentine Tionghoa)





Festival Qi Xi (Qi Xi Jie [七夕节]) atau disebut juga dengan Festival Qi Qiao (Qi Qiao Jie [乞巧节]) merupakan salah satu Festival penting  dalam budaya Tionghoa terutama bagi para gadis-gadis muda. Festival Qi Xi memiliki sebuah cerita asal usul yang Romantis sehingga Festival Qi Xi ini sering dianggap sebagai Hari Valentine Tionghoa. Pada Malam Festival Qi Xi yaitu tepatnya bulan 7 tanggal 7 dalam penanggalan Imlek, gadis-gadis muda melakukan permohonan dan doa agar dapat meningkatkan keterampilan seni mereka dan juga memohon supaya mendapatkan suami yang setia dan baik serta mencintainya.

Asal Usul Festival Qi Xi berasal dari sebuah cerita Rakyat yang sangat Romantis mengenai Niu Lang [牛郎] dan Zhi Nu [织女] yaitu si Gembala Sapi dan Gadis Penenun. Cerita Niu Lang dan Zhi Nu ini juga merupakan salah satu dari 4 cerita Percintaaan Romantis China.

Cerita Niu Lang (Si Gembala Sapi) dan Zhi Nu (Gadis Penenun)

Pada Zaman Dinasti Zhou, di Desa Niu Jia [牛家] kota Nan Yang [南阳] terdapat seorang Pemuda yang rajin dan jujur. Kedua orang tuanya telah meninggal dunia sehingga Pemuda tersebut tinggal bersama Kakaknya. Istri Kakaknya sangat kejam dan selalu memaksa pemuda tersebut melakukan semua pekerjaannya. Pemuda tersebut kemudian dikenal dengan nama Niu Lang yaitu Pemuda  Gembala Sapi.
Pada Suatu Musim Gugur, Istri kakaknya menyuruh Niu Lang menggembala 9 ekor sapi, tetapi pulang harus membawa 10 ekor sapi. Kalau tidak, Niu Lang tidak diperbolehkan pulang ke rumah. Dengan sangat terpaksa, Niu Lang menuruti perintah Istrik Kakaknya.
Niu Lang menggembala kesembilan ekor sapi tersebut ke dalam gunung yang penuh dengan rumput untuk makanan sapi. Niu Lang kemudian duduk dibawah pohon dengan sedih dan memikirkan cara bagaimana dapat membawa pulang 10 ekor sapi. Tiba-tiba seorang Pria Tua yang berambut putih berdiri di depannya dan menanyakan kepada Niu Lang mengapa tampak sedih. Setelah mengetahui penyebab kesedihan Niu Lang, Pria Tua tersebut kemudian senyum dan menasehatinya untuk pergi ke Gunung Fu Niu [伏牛山],  disana terdapat seekor Sapi yang sakit dan jika dirawat dengan baik hingga sembuh, sapi tersebut dapat dibawa pulang ke rumahnya.
Niu Lang kemudian menuruti nasehat Pria Tua tersebut dan berangkat ke Gunung Fu Niu. Akhirnya dia menjumpai seekor sapi tua yang sakitnya sangat parah. Niu Lang dengan sabar merawatnya dan memberikannya makan hingga pada hari ke-3, Kesehatan sapi tua tersebut mulai pulih dan mengangkatkan kepalanya. Sapi Tua tersebut kemudian memberitahukan kepada Niu Lang bahwa dia (sapi tua) adalah Dewa Sapi Abu-abu [灰牛大仙] yang tinggal di Alam Dewa (Langit) tetapi karena melanggar aturan Alam Dewa (Langit) sehingga dihukum untuk turun ke alam manusia (bumi ini). Sapi Tua tersebut mengatakan bahwa luka kakinya harus dicuci dengan air yang berisikan ratusan jenis bunga agar dapat sembuh. Niu Lang kemudian menurutinya dan merawat sapi tua tersebut dengan sabar hingga satu bulan. Sapi tua tersebut kemudian sembuh total dan mengikuti Niu Lang pulang ke rumahnya.
Sepulangnya ke rumah, Istri Kakak Niu Lang tetap bertindak kejam terhadapnya. Beberapa kali ingin membunuhnya, tetapi diselamatkan oleh si Sapi Tua. Akhirnya Niu Lang diusir oleh Istri Kakaknya dari rumah dan tidak memperbolehkannya pulang untuk selamanya. Niu Lang bersama dengan Sapi Tua yang diselamatkanya tersebut  kemudian terpaksa harus meninggalkan rumah Kakaknya.
Pada suatu hari, Dewi Penenun (Zhi Nu[织女]) beserta Dewi-dewi lainnya bermain ke alam manusia (bumi). Atas bantuan si Sapi Tua, Niu Lang berhasil berkenalan dengan Zhi Nu dan timbullah rasa cinta diantara mereka berdua. Zhi Nu kemudian diam-diam turun ke alam manusia dan menjadi Istrinya Niu Lang. Zhi Nu juga membawa ulat sutera dari alam dewa dan mengajari manusia memelihara ulat sutera tersebut serta mengajarkan cara mengambil benang dari ulat sutera tersebut. Zhi Nu juga mengajarkan kepada manusia bagaimana cara menenun Kain Sutera yang baik dan cantik.
Setelah menikah, Niu Lang dan Zhi Nu hidup dengan bahagia, Niu Lang bercocok tanam dan Zhi Nu menenun kain sutera. Mereka memiliki seorang anak putra dan seorang anak putri. Tetapi kebahagian mereka tidak dapat berlangsung dengan lama. Tidak lama kemudian Kaisar Langit di alam Dewa mengetahuinya, Permaisuri Kaisar Langit (Wang Mu Niang-Niang [王母娘娘]) turun ke alam manusia dan memaksa Zhi Nu untuk pulang ke alam dewa.   Sepasang Suami dan Istri yang saling mencintai akhirnya terpaksa harus berpisah.
Niu Lang sangat bimbang dan tidak tahu bagaimana caranya untuk mengejar Istrinya ke alam dewa (langit), tiba-tiba Niu Lang teringat akan kata Sapi Tua bahwa Sandal yang pernah dibuatnya dari kulit Sapi tua tersebut dapat membantunya naik ke langit. Niu Lang kemudian membawa kedua anaknya mengejar Zhi Nu ke langit (alam dewa). Begitu hampir mendekatinya, tiba-tiba Permaisuri Kaisar Langit menciptakan sebuah sungai langit yang luas untuk memisahkan mereka berdua. Niu Lang dan Zhi Nu yang dipisahkan oleh sungai langit tersebut hanya bisa menangis dengan penuh kesedihan. Percintaan Niu Lang dan Zhi Nu ini menyentuh hati puluhan juta burung-burung Murai (Xi Que [喜鹊]) yang kemudian membentuk sebuah Jembatan burung Murai untuk mempertemukan Niu Lang dan Zhi Nu diatas jembatan burung Murai tersebut. Permaisuri Kaisar Langit tidak berdaya melihat kejadian tersebut, akhirnya menyetujui mereka berdua bertemu sekali dalam setahun yaitu setiap malam ke-7 pada bulan 7 menurut penanggalan Imlek.
Oleh karena itu, setiap malam ketujuh (7) bulan tujuh (7), gadis-gadis muda menatap ke langit dan mencari bintang Niu Lang (bintang Altair) dan bintang Zhi Nu (bintang Vega) dengan harapan dapat melihat pertemuan Niu Lang dan Zhi Nu sambil berdoa supaya keterampilan seni mereka dapat sebaik Zhi Nu dan mendapatkan Suami yang setia dan mereka cintai. Dengan demikian tradisi tersebut diadakan secara turun temurun dan akhirnya menjadi suatu Festival yang disebut dengan Festival Qi Xi.
Festival Qi Xi pada tahun 2013 jatuh pada tanggal 13 Agustus 2013.


Sumber